Tampilkan postingan dengan label Koas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Koas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Juni 2017

Jaga THT dan Terkabulnya Doa

Suatu saat di hari Sabtu pekan pertama stase THT, saya jaga bangsal bersama teman saya yang namanya Helena, gadis 1996 asal Bogor keturunan Klaten. Jaga bangsal di hari libur normalnya dibagi 2 shift, 07.00-19.00 dan 19.00-07.00 keesokannya. Namun jaga hari itu spesial. Kenapa? Karena cuma 1 shift. Bersyukur satu shiftnya bukan 24 jam, tapi 14 jam, jam 07.00-19.00. Ya Alhamdulillaah ga pakai sahur di RS segala. (Karena saya pengen banget sahur di rumah terus. hehe)

Apa sih yang dijaga selama jaga bangsal. Biasa... TTV alias tanda-tanda vital. Bahasa inggrisnya vital signs. Meliputi tensi, frekuensi nadi, respirasi, dan suhu badan. Selain itu, sebenarnya kasusnya bukan untuk dokter umum banget. Kalau mau periksa pasien cuma bisa seadanya saja, alat periksa untuk koas ga disediakan. Tapi tentu tetep bisa anamnesis. Lumayan kan. Dari anamnesis, 70% diagnosis telah tegak.
Waktu kami jaga, pasien bangsalnya ada 8. Dua diantaranya pemantauan khusus yang perlu di balans cairan tiap 4 jam. Selain itu... tensi jam 5 sore. Pasien2 pemantauan khusus itu sama sama terkena deep neck infection yang bermanifestasi menjadi abses leher. Penyebabnya, kemungkinan besar akibat infeksi dari gigi setelah cabut gigi di 'tukang' gigi. Makanya kalau mau perawatan gigi sama dokter gigi ya, jangan sama 'tukang' gigi.

Selain TTV kami juga ikut residen kalau ada tindakan atau panggilan dari IGD. Pas jaga kemarin ada dua pasien bangsal yang tindakan lepas tampon hidung. Saya sama Helena mengasisteni.

Cuma satu yang bikin Helena gelisah sejak pagi, ngga ada panggilan dari IGD. Memang kurang gimana gitu kalau jaga tapi ngga ada kasus IGDnya. Padahal teman-teman yang kemarin-kemarin jaga mesti dapet kasus IGD, bahkan ada yang sampai 6 kali. 
Hingga akhirnya sebelum sholat maghrib, Helena bilang "Ma, jangan lupa berdoa supaya ada kasus IGD ya.. satuu aja." 
Eh beneran, satu jam kemudian beneran ada kasus IGD. Hohoo, doa pun terkabulkan. Literally terkabulkan. Alhamdulillah. 

Kami ke IGD bersama residen bangsal jaga kala itu, dr. Ratna dan dr.Bontang. E ternyata kasusnya adalah, suspek corpus alienum duri ikan. Pasien wanita usia 50an datang dengan keluhan tenggorokan sakit dan perih sekali, yang dirasakan setelah pasien tidak sengaja menelan bagian ekor dari ikan lele yang disantapnya untuk berbuka. (sampai disini, pelajaran ya.. kalau makan ikan hati-hati, kayak saya, hati-hati banget kalau makan ikan. Akibatnya makan ikannya jadi lama 😂). Nyeri dirasakan memberat jika pasien menelan. Rasa mengganjal (+), sulit bernapas (-).

Setelah diperiksa dengan sebelumnya dibius lokal xylocain semprot, ternyata faring sebelah kanannya hiperemis sekali (hiperemis:kemerahan). Tanda bahwa disana baru terjadi peradangan/perlukaan. Namun sayang, si ekor ikan yang diduga jadi penyebabnya pun tak jua ditemukan. Bye. Residen pun memulangkan si pasien dengan obat pulang antinyeri dan antiradang. Jika dalam 5 hari keluhan tidak membaik, pasien diminta kontrol ke poli THT. Udah, gitu aja. Cuma ga sampai 10 menit balik lagi ke bangsal. Tapi alhamdulillah, doa koas jaga terkabulkan bukan ? 

Puas? Kalau kata hele sih dia sebenernya pengen kasus yang lebih advanced lagi. Entah yang kaya bagaimana maksud advanced itu. Mungkin yang duri ikannya kelihatan dan perlu tindakan laringoskopi direk untuk pengambilannya.. maybe. 

Hikmahnya.. ada konsekuensi dari doa dan terkabulnya doa. Selain mohon agar doa terkabulkan, baiknya juga memohon pada Allah agar memberi yang terbaik karena kita tak tahu apa yang akan terjadi sementara Dia mengetahuinya, dan mohon juga agar kita dimampukan untuk menghadapinya. Karena siapa tahu, ternyata doa betul-betul terkabulkan secara harfiah, tapi ternyata kita justru menemui kesulitan saat menghadapinya. Well, apapun itu, kalau Allah telah memberi karunianya, itu berarti Allah telah percaya pada kita dan telah memberikan kemampuan pada kita untuk menghadapi tantangan-tantangannya juga. والله اعلم بالصوب 


Sabtu, 27 Mei 2017

16112

Tak terasa sudah satu tahun dua bulan bersama mereka. Teman-teman yang kuat yang membersamaiku selama koas dua tahun ini. Dari lebih dua ratus dokter muda, entah mengapa aku ditakdirkan bersama mereka :) Kalau emang jodoh gak kemana ya. Hehe. Maka kita bertigabelas ini berjodoh. Iya kan 16112 ?





Disinilah berbagai karakter manusia bertemu, saling bersinergi. Meski kadang jalannya tak mulus. Tapi kuakui, bersama merekalah aku banyak bertumbuh, berproses dari seorang koas yang kosong, menjadi koas yang lebih berisi. Selamat menjalani sisa-sisa masa koas, semoga kita bersama menjadi pribadi yang lebih baik, dan saling menguatkan :)

Minggu, 18 September 2016

Satu Hal yang Dirindukan Semasa Kuliah

Ketika engkau resmi lulus dari kuliah, satu hal yang akan engkau rindukan adalah liburan. Gimana ngga kangen liburan, waktu masih kuliah S1 setahun bisa mendapat jatah libur tiga bulan. Lain halnya dengan sekarang ini, status masih mahasiswa, mahasiswa profesi maksud saya, tetapi, libur yang diberikan hanya sepuluh minggu untuk dua tahun. Njegleg sekali. Jujur saja. Tapi ya, Alhamdulillah. Terlebih libur-libur yang dijadwalkan oleh sekretariat profesi ada pada momen yang tepat, setiap sebelum stase besar misalnya (kecuali obsgyn, karena sebelumnya ada forensik yang juga ternasuk stase liburan. Hahahha). Dan Alhamdulillah, justru dengan libur yang sedikit ini, masa-masa liburan saya terasa sangat berarti. Berkumpul bersama Ibu dan Bapak lebih lama setiap harinya. Memanfaatkan waktu selagi beliau berdua masih menjadi orang yang harus saya nomor satukan. Kapan lagi coba?
Nah ya, inilah jadwal libur saya. Terselip di antara stase-stase koas.
#sedangsenangkarenaakhirnyadapatliburpanjang #mariproduktif

Rabu, 07 September 2016

Ilmu Kesehatan Masyarakat: DONE

Ilmu Kesehatan Masyarakat. Yap. Stase baru saya setelah radiologi. Satu-satunya stase non klinik yang harus saya lewati selama koas (KKN tidak termasuk stase ya. Itu mah, program khusus).
Stase ini tidak lama, hanya dua minggu. Namun karena cakupan ilmu kesehatan masyarakat itu sebenarnya sangat luas, dosen pembimbing stase kami membagi-bagi 13 orang kami untuk mengerjakan proyek-proyek kecil yang saling berbeda subdisiplin ilmu. Menurut dr Fatwa, dp kami, pembagiannya berdasar refleksi diri yang telah kami tuliskan di hari pertama stase ikm. Yang harus direfleksikan kurang lebih begini.. 1. Mau jadi apakah saya 10 tahun mendatang ketika, kira2 da di ouncak karir. 2. Apa kegiatan yang saya suka lakukan 3. Topik apa yang saya sangat senangi (tidak harus kesehatan).
Saya jawab saja refleksi itu sesuai keinginan hati, hehe.. itung-itung curhat. Dan hasil dari refleksi itu menyebabkan saya diamanahi untuk belajar di proyek pembinaan Dusun Bedoyo, Cangkringan. Pembagiannya seperti di bawah ini..
Bareng stefi dan katika lagii...


Dusun Bedoyo adalah salah sebuah dusun yang menjadinbagian dari Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, kecamatan paling utara dari Propinsi DIY. Bedoyo terletak 23 km perjalanan dengan motor saya, dari rumah. Tidak terlalu jauh bukan? Hanya jalan kaliurang ke utara terus, nanti belok kanan di lampu merah setelah SMP 4 pakem, belok kiri sewaktu pom bensin, dan jalan lurus terus ke arah gunung, nanti akan ada tulisan: pedukuhan Bedoyo. Itulah lokasi belajar kam

Menurut mbak Winni Tumanggor, SKM, MPH, tutor pribadi saya selama ikm ini, Dusun Bedoyo dibina ikm terutama dalam pengelolaan sampah yang selama ini belum dilakukan oleh warga. Tidak ada pasukan kuning-kuning yang setiap hari berkunjung untuk mengangkut sampah mereka. Warga, yang kebanyakan petani, banyak yang membuang sampah di parit sawah. Sampah plastik dan organik jadi satu. Ada juga yang masih lumayan peduli, telah tahu bahwa plastik tidak bisa busuk, alih-alih membuang di parit justru membakarnya. Bukankah itu hanya mengalihkan dampak dari parit ke paru-paru manusia.

Nah, gimana sih sebetulnya kondisi dusunnya. Jujur, waktu dibagikan tugas proyek itu pun, saya belum tahu seperti apa bentukan dusun Bedoyo. Tapi itu tidak lama. Sore hari setelah pembagian tugas, kami semua yang terlibat di pembinaan desa, berkunjung ke dusun Bedoyo. Berharap segera menemui titik paham dari tugas kami.

Pukul 15.30 kami berangkat ke Dusun Bedoyo. Berdelapan. Saya, Stefi, Kak Tika, Danang, beserta tutor-tutor pribadi kami, Mbak Winni, Mbak Vera, Mas Fahmi, dan mbak Fitri. Sempat terjadi hal yang tidak mengenakkan selama proses berangkat. Saya tertinggal di belakang. Heu. Karena prinsip saya dalam berkendara, boleh cepat dan ngebut, tapi janganlah selap selip kanan kiri terlalu banyak. Tetap berusaha sopan dengan pengendara lain lah saat berkendara. Hehe. Alhasil saya ketinggalan dibelakang. Syukurlah jalan ke Dusun Bedoyo tidak terlalu masuk ke dalam. Jalannya cukup lurus (ya tapi tetap melengkung-lengkung sih), tidak banyak belok ke cabang jalan. Ketinggalan rombongan pun alhamdulillah bisa saya atasi dengan menanyakan lokasi Bedoyo pada pedagang di pinggir jalan.

Sesampainya di jalan utama Dusun Bedoyo saya segera menemukan teman-teman saya yang meninggalkan sayaaaa. Huhu. Tapi saya tak tega mau bilang kalau mereka tega. Sudahlah, haha. Kamipun langsung berkeliling kampung, dibagi dua tim, empat empat. Berkeliling sembari observasi sekilas mengenai lingkungan dan sosiodemografi Dusun Bedoyo. Kami berkeliling dengan motor hingga ke persawahan di dekat  Kali Kuning yang ditempuh melalui jalan semen yang sempit dan sebenarnya tidak aman dilewati. Bahkan dari kami pun sudah jatuh satu korban, kak Tika. Beliau beserta motornya jatuh ke parit sawah dan terpaksa mengalami beberapa luka ringan. Motornya yang jatuh ke parit pun harus diangkat kami berempat agar bisa menapak jalan semen lagi. Syukurlah kak Tika tak mengalami sesuatu yang serius. Tapi ya, efek jeranya, kami jadi super hati-hati dalam berkendara di jalan tersebut.

Dusun Bedoyo awalnya tampak mirip dengan kampung saya, terdiri dari banyak rumah-rumah sederhana warga, kebanyakan tidak berpatar. Rumahnya ya biasa saja tidak ada yang masih dari anyaman bambu. Namun, emakin menyusuri gang, dan masuk ke gang lainnya, ternyata tidak semirip itu. Banyak rumah yang memiliki pekarangan luaaas, dengan pohon-pohon yang banyaaak. Setiap rumah pun memiliki kolam ikan untuk konsumsi sendiri, kebanyakan berisi ikan lele dan nila. Bukan ikan koi atau ikan mas ya. hhe, itu sih kolam penghias rumah. Selain beternak ikan, banyak warga memelihara ayam, itik, sapi, dan kambing. Itu mengapa selama berkeliling saya sering mencium bau prengus-prengus khas kambing, haha.

Dalam hal perekonomian, kebanyakan warga bekerja sebagai petani. Petani sawah, maupun ladang dan kebun. Sumber kegiatan ekonomi mereka lainnya adalah ternak, seperti yang sudah saya sebut tadi. Sawah dan ternak yang mereka kerjakan itu kebanyakan adalah milik mereka sendiri. Jadi sawah ya tanahnya punya sendiri, ternak juga punya sendiri. Dari hasil pekerjaan itulah mereka menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.

Hanya satu yang disayangkan. Sekarang mereka mengalami krisis regenerasi. Anak-anak mereka yang sudah mereka sekolahkan susah payah dari hasil mencangkul, dan ngarit tidak ada yang berminat mencari penghidupan seperti orang tuanya. Padahal, dibandingkan jadi pegawai biasa lulusan SMA/SMK jadi petani cerdas di Dusun Bedoyo lumayan menghasilkan loh sepertinya. Ya, mungkin.. ah, entahlah.

Kembali ke tugas saya. Fokus penugasan yang diberikan pada saya dari departemen IKM adalah mengenai kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan lingkungan, terutama dalam pengelolaan sampah padat rumah tangga di Dusun Bedoyo ini. Harapan saya sih, saya dapat lebih memahami pandangan masyarakat akan isu kesehatan, mengapa mereka peduli atau tidak peduli pada isu tertentu, dan bagaimana cara pendekatan agar mereka peduli.

Menurut website endvawnow.org, kesadaran masyarakat atau yg bahasa inggrisnya disebut public awareness, adalah tingkatan pemahaman masyarakat akan suatu isu, beserta dampak dan implikasinya. Menyadarkan masyarakat akan suatu isu tersebut tidaklah sama dengan memberinya penyuluhan. Mungkin penyuluhan akan mudah bagi masyarakat dengan pendidikan tinggi, namun belum tentu mudah bagi masyarakat yang berhenti mendapat pendidikan formal lebih awal.

Berdasarkan video youtube referensi dari tutor yang saya tonton, mengenai penyadaran masyarakat Desa Tiweria, Ende, Sumba, penyadaran masyarakat sendiri terdiri dari tiga garis besar kegiatan:
  • Pra pemicuan, 
  • pemicuan, 
  • dan pasca pemicuan.  
Pada pra pemicuan, petugas kesehatan perlu membangun komunikasi yng baik dan kepercayaan dengan pemimpin masyarakat, ya istilahnya kulonuwun dulu lah kalo di jawa. Kalo sudah dapat izin masuk dari pimpinan, baru deh mulai memperkenalkan diri ke warga dan memberitahukan bahwa kita punya niat baik untuk membantu permasalahan yang ada di lingkungannya.

Pada proses pemicuan, kita perlu mengajak warga untuk secara aktif memetakan masalah yang terjadi. Dari pemetaan tersebut, kita ajak warga untuk bersama-sama menilai keparahan dari masalah yang terjadi, serta dampaknya. Nah, kadang masyarakat akan memiliki pandangana yang berbeda dengan petugas terdidik seperti kita dalam menyikapi suatu masalah lingkungan/kesehatan. Misal, bagi mereka buang sampah sembarsngan itu ga apa apa kok, tapi kita, kan sudah mengetahui bahwa itu tidak baik bagi lingkungan juga bagi kesehatan. Maka sebagai pihak yang lebih sadar, kita arahkan pemahaman mereka akan hal penting tersebut. Buat dia memahami dampaknya, bagi dirinya, ljngkungannya, dan orang-orang di sekelilingnya. Ketika dia sudah mulai sadar, maka akan lebih mudah memberi penyuluhan dan mengajak mereka untuk memperbaiki masalah tersebut secara bersama-sama. Tentu akan butuh dukungan daei semua pihak. Berat memang, tapi sebetulnya masyarakat itu mampu kok membuat hidup mereka menjadi lebih baik. Terbukti dari dokumentasi Desa Tiweria tadi. Pada awalnya, wargahya selah BAB di sembarsng tempat, buang sampah sembarsngan, dan membuang limbah cair juga sembarangan, setelah melalui tahap pemicuan itu, mereka bisa kok kerubah gaya hidup tidak baiknya.

Terakhir, pasca pemicuan.. saatnya untuk monitoring dan evaluasi program. Jika ada warga yang khilaf-khilaf lupa, ya dingatkan dengan sabar saja. Inti dari penyadaran masyarakat jni adalah : sabar. Sabar dalam menghadapi gap dan tantangan yang terjadi di lapangan. Dengan niat ikhlas dan sungguh-sungguh, insyaAllah masyarakat dapat lebih baik dengan adanya kita.

Sebelum saya, Kak Tika, Stefi, dan Danang kesana, tutor-tutor pribadi kami telah lebih dahulu mengerjakan proyek tersebut sejak bulan April 2016. Mereka telah melakukan pemetaan masalah, mengarahkan warga untuk menemukan masalah sampah tersebut, dan memotivasi warga untuk melakukan studi banding ke Bank Sampah Handayani dan Dusun Wisata Lingkungan Sukunan. Berkat usaha panjang mereka yang telah berbilang bulan itu, warga Dusun Bedoyo sekarang sudah mulai sadar untuk menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Dari dua RW, yang satu sudah mulai rutin mengumpulkan sampah non organiknya pada tempat khusus yang kemudian dikumpulkan untuk dijual ke Dusun Sukunan. Dilain hal, RW yang kedua tampak perlu mendapat perhatian lebih. Program pengelolaan sampah baru dijalankan oleh beberapa warga saja. Usut punya usut, ternyata ketua program dari RW kedua ini kurang gencar mensosialisasikan program sampah itu. Berbeda dengan Ketua program dari RW pertama yang sangat gencar mempromosikan programnya.

Memang tidak banyak yang bisa saya lakukan dalam dua pekan stase IKM, namun entah mengapa berkesan sekali mempelajari IKM langsung dari masyarakat, bukan sekedar teori. Memang saya jadi sangat boros bensin untuk menempuh perjalanan 46 kilometer dari rumah-kampus-bedoyo-rumah, namun itu semua terbayar tatkala bertemu dengan keramahan warga di Desa sejuk nan permai di kaki merapi itu. Hasil dari pembelajaran saya selam dua pekan di Dusun Bedoyo akhirnya saya tampilkan ke dosen dalam bentuk poster berukuran A0. Besar, dan mahal biaya cetaknya, satu hal yang disayangkan dari stase IKM. Ah, tapi tak apalah, memang sudah harus diikhlaskan. Namun, saya tetap memberi saran ke penyelenggara koas IKM biaya tugasnya tidak terlalu membebani koas, kan kasihan.

Itu saja sih.

Yang jelas, saya bahagia dengan tugas saya selama IKM. Bersama warga desa memberi pengalaman baru yang menginspirasi. InsyaAllah saya segera kembali lagi ke masyarakat desa, dua pekan lagi, untuk KKN. InsyaAllah ilmu KKN nya bermanfaat. Terimakasih IKM, terimakasih dr Fatwa Sari Tetra Dewi, MPH, PhD, mb Winni, mb Fitri, mas Fahmi, dan teman-teman 16112 seperjuangan saya.

******
setelah syok kak Tika reda, foti duluu


Itik-itik Pak Bakat, sang ketua pengelol sampah RW 25, yg sukses itu

Sampah-sampah plastik menumpuk di paritan sawah

Sampah plastik dan kertas yang sudah dikumpulkan. Siap dijuall.

Candid by mbak Winni, lagi ngobrol seru dengan Pak Bakat

Nah, sampai pada pengujung juga kan. Ini nih, anggota lengkap koas Bedoyo

Minggu, 04 September 2016

Mengakhiri Stase Penuh ke Abu-Abuan di Radiologi

Sama mb Dian, administrator koas terbaiiik. Yang selalu sabar mengurus jadwal para koas. Yang baik banget selalu jadi penengah antara konsulen dengan koas. Terimakasih mba Dian sudah sangat membantu kerjaan saya selaku chief radiologi untuk teman kelompok saya. Saya jadi merasa bersyukur telah memilih jadi chief di radiologi. Loph you to the neptunus and back mbaak.

jeng Stefi, yang selalu barengan kemanapun rumah sakitnya, bahkan KKN 2 bulan pun insyaAllah barengan ya jeng ya? Hehe. Orang ter sabarrr, ter dewasaa. Paling kalem dalam memghadapi setiap masalah, paling tanggap kalo temennya lagi ada masalah. Pokonya , ter strong lahh. Sebagai sesama anak bekasi, gue patut bangga dengan jeng stef jni. Hehehe.

Pasca ujian akhir stase. Liaaat, tuh si Sofhi di depan shiny sekali, like a bride. Ane mah, nyumlik di belakang lagi urusan dengan mb Dian

Minus beberapa orang, ini kelompok besar saya untuk 4 stase besar plus stase radiologi. Bertepatan dengan hari keistimewaan kota Yogyakarta

Kebaya and batiks in a row. Sengaja janjian pake kebaya, biar makin menghayati hari keistimewaan jogja. Jiga foto-foto. Tetap yaa. Haha.


Alhamdulillah stase radiologi berakhir sudah. Stase kecil, ngale-ngale, tapi sangat bermanfaat ilmunya. Latian menginterpretasikan foto radiologi dengan kondisi pasien. Juga sekalian belajar patfis, pemfis, sx, ddx, tx penyakit. Yz, itung-itung dinstase radiologi ini sudah mencicil sedikit untuk stase Ilmu penyakit dalam, bedah, syaraf, anak, dan THT. Semoga berguna dan barokah ilmunya. 



Senin, 27 Juni 2016

Jaga Terakhir Obsgyn di Muntilan

Tak terasa rotasi selama 2 pekan di RSUD muntilan ini. Hari ini adalah hari terakhir saya bertugas di Muntilan, dan ditutup dengan jaga malam. Seperti biasa, begitu datang ke VK, saya operan dulu dengan kak Tika yang jaga sebelum saya. Kak tika jelasin apa-apa yang terjadi seharian itu, juga pasien-pasien apa saja yang tersisa. Agak sepi malam ini, ada 4 pasien di VK dan 1 di PONEK. Dua pasien post partum, satu pasien post partum hemorrhage, satu pasien pro-re-SC besok pagi, dan satu pasien hamil aterm ketuban pecah dini (KPD) letak sungsang. Wah, agak santai lah saya pikir. Hehe. Tidak ada yang dalam masa persalinan aktif, alias bukaannya masih 1 atau 2. Paling ada 1 yang perlu pantauan ketat denyut jntung janin tiap 2 jam dikarenakan punya KPD >24 jam, riwayat SC, dan riwayat minum jamu akar fatimah. Pasin itu mau di re-SC pagi ini. Dua jam itupun cukup santai karena bisa gantian dengan Hayyin, mahasiswa praktikan perawat. Nah karena santainya itulah, saya mohon izin ke Hayyin buat tidur duluan. Sudah ngantukk banget. Saya minta Hayyin bangunkan saya jam 1, biar gantian cek DJJnya.

SC Emergency
Sayapun tidur duluan jam 22.30. Saya setel alarm jam 1 dini. Eh lah kok malah nggak kebangun sama alarm saya. Saya justru bangun jam 01.30 karena suara ribut-ribut dari lur. Oalah,, ada apa tho. Dengan kondisi masih setengah sadar dan mata masih merah pun saya keluar, mengecek situasi. Ternyata sumber keributan itu semua dari bed 3, ibu yang hamil sungsang itu. Welah kenapa tho, apa sudah bukaan lengkap ya, pikir saya, malah bagus lah tidak perlu di SC kalau gitu. Eh tapi setelah saya perhatikan lagi, kok ada tali pusat menjuntai dari vaginanya. Saya pikir sudah lahiran dan memasuki waktu kelahiran plasenra, loh kok ditinggal tidur sebentar aja udah lahir. Yah, saya nggak bisa bantu persalinannya dong. Kecewa :( Setelah saya perhatikan sekali lagi, ternyata yang terjadi jauh lebih serius dari itu. Gawat darurat malah. Saya tidak lihat ada staf bangsal perinatal di VK, tidak ada suara tangisan bayi, infant radiant warmer (penghangat bayi) tidak menyala, perut ibu masih besar, serta masih terpasang doppler untuk cek DJJ di atas perut ibunya. Suara denyut janin terdengar bradikardi (frekuensi melambat). Wah, fix itu gawat banget. Prolaps tali pusat. Sangat berbahaya bagi janin. Kalau pembuluh darah di tali pusat tergencet sebentar saja, cukup beberapa detik, bayi bisa asfiksia (kekurangan oksigen) dan segera meninggal. Syukurlah tali pusat tidak full tergencetnya, sehingga bayinya masih dapat suplai darah dan oksigen.

Tim VK segera mengajukan permintaan operasi Sectio Cesarean(SC) cito (emergency), saat itu juga. Bersyukur sekalo karena tim cito Instalasi Bedah Sentral (IBS) fast response dan ibu bisa segera di operasi. Naah, sebagai koas yang iseng, saya inisiatif ikut ke operasi ibu tersebut. Untung boleh pinjam baju bersih punya IBS, biasanya sih disuruh membawa baju bersih sendiri.

Operasi dimulai pukul 1.45. Awalnya pasien dibius spinal di regio lumbal. Tapi ya, masak udah dibius spinal agak lama, kaki ibunya masih belum terlumpuhkan, masih terasa sakit waktu dicubit pakai pinset chirurgis yang ujungnya tajam. Tangan ibunya pakai bergerak ke medan operasi yang sudah steril lagi. Ngalamat gagal bius ini. Yahh, rak yo gawat kalau operasi biusnya gagal, nyerinya bisa terep terasa donk. Bisa menimbulkan trauma operasi yang hebat pada pasien. Akhirnya dokter SpAn memutuskan bius umum saja (general anestesi/GA) dengan pipa napas LMA secara rapid sequence intubation(RSI)ntermodifikasi. Waktu ditanya terakhir makan jam berapa, ternyata pasien baru makan jam setengah dua belas. Baru dua jam sebelum operasi. Hei, itu terlalu dekat jarak makannya. Secara teori sih sebenernya paling tidak dipuasakan 6 jam dulu sebelum operasi. Sebab, orang yang dibius umum akan kehilangan reflek menelan, dan berbatuk, sehingga memiliki resiko tinggi untuk tersedak makanan dari lambung ke paru-paru. Sebetuknya yang namanya RSI itu ya pakai pipa napas endotracheal tube(ET), bukan LMA. LMA terlalu beresiko untuk aspirasi(tersedak) karena pasien belum puasa 6 jam, seharusnya juga tidak boleh, namun dr SpAn takut menggunakan  karena akan memakan waktu lebih lama. Terlalu beresiko untuk bayinya. Jalannya operasi pun ada ada aja masalahnya. Letak bayi kepala disamping kanan, susah mengeluarkannya lewat irisan di dinding perut. Akibatnya dinding oerut ibu kepentok kepala bayi, otot-ototnya lebih banyak yang sobek, perdarahannyang terjadi kira-kira 3 kali lipat lebih banyak dibanding operasi SC elektif biasanya.. Bayi berhasil dilahirkan. Kondisi awalnya tidak bagus, dia tidak menangis dan tonus ototnya buruk. Saya tugas membawa bayi yang baru dilahirkan itu untuk dibawa ke tim perinatal di ruang pemulihan. Syukurlah sebelum saya sampai kesana, dedek bayi sudah menunjukkan tanda-tanda bernapas, walau lemah dan tidak menangis. Tapi setidaknya dia punya peluang yang baik  selesai pukul 2.45. Ini lama bangett SCnya. Satu jam. Demi Allah saya belum permah nemu SC selama ini. Biasanya cuma 20 menit selesai. 

Jadi keinget ibu waktu melahirkan saya dulu. Ibu mulai merasakan kenceng-kenceng di perut yang sakit biasa sejak hari kamis siang, 25 Agustus 1994. Terus begitu hingga ketuban pecah hari kamis malamnya. Terus menerus kontraksi sampai ibu kelelahan, tak ada tenaga lagi untuk mengejan padahal baru bukaan 3. Hmm, sepertinya ibu mengalami partus tak maju, yaitu periode memanjang dari bukaan serviks 1 cm ke bukaan 10. Akhirnya dokter SpOG  menawarkan pilihan SC untuk melahirkan saya. Dan saya pun lahir ke dunia ini paginya, pukul setengah tujuh WIB hari Jumat, 26 Agustus 1994. 

Duh, berat banget ya perjuangan menjadi seorang Ibu. Waktu kontraksi, saking sakitnya, guntingan episiotomi untuk melebarkan jalan lahir bayi pun konon katanya kalah sakit dibanding sakitnya kontraksi. Melahirkan SC yang dibius regional dari pinggang ke bawah pun, biasanya ibu tetap merasakan sakitnya kontraksi yang kerap terjadi di minggu-minggu akhir kehamilan, juga sakitnya luka post-op yang membuat ibu SC pulih lebih lama dari ibu partus normal. Dua-duanya sakit, sereem, dan beresiko. Pantaslah Allah dan Rasulullah SAW  menyuruh anak untuk berbuat baik kepada ibunya lebih dulu dari pada bapaknya. Nah kan, jadi kangen ibuk. Hiks. Saya tinggal mulu sejak stase obsgyn ini.

Yah, inilah stase obsgyn. Baru dua pekan di Muntilan, belum di Banjarnegara yang empat minggu. Semoga selain bisa menguasai kompetensi dokter umum yang ditargetkan, saya juga bisa mengambil ibroh (pelajaran) yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Bye stase obgyn muntilan, VK, Poli KIA, bangsal Gladiol, ibu-ibu bidan dan perawat yang baik hati, adek-adek akbid serta akper yang jadi teman setia saat jaga VK, dan tentunya dokter SpOG yang gemar mengajari dan m. Overall di Muntilan yang katanya selo itu menurut saya sebenernya.., ya selo sih. Tapi selonya bisa dapet kompetensi. Tempatnya juga nyaman, dan dekat dengan sumber peradaban. Udah gitu, dapet menu buka dan sahur gratis bagi koas yang jaga. Wah itu baik banget, demi Allah. Gak ada RS lain yang menyediakan ransum koas. Wah bakal kangen lah dengan koas obgyn muntilan. Semoga di Banjarnegara bisa lebih maksimal belajar dan berlatihnya. Semogaaa aja Allah ridho dengan koas kami, menjauhkan kami dari maksiat, dan menunjukkan kami ke jalan-Nya yang terang benderang.

Selasa, 14 Juni 2016

Moon-Tea Land

Muntilan, 13 Juni 2016, 9 Romadhon 1437

Alhamduliĺah. Hanya atas kuasa-Nya semata saya masih diberi kesempatan melihat dunia di malam ke sembilan Romadhon ini. Alhamdulillah, Allah masih mempercayakan ksrunia nikmat sehat kepada jasad saya agar dapat digunakan sebaik-baiknya dalam usaha meraih ridho-Nya. Bukankah banyak orang di gedung seberang (rumah sakit) yang berharap dalam keadaan sehat?  Hmm, semakin jauh jalannya koas, ssemakin Alhamdulillah, di kota sepelemparan batu dari Yogyakarta ini saya dapat mengakses internet, dengan paket murah, hehe, sebut saja T*ree. 

Dan hei!! Disinilah saya sekarang berada. Muntilaaan. Moon-Tea-Land. Tanah Rembulan dan Secangkir Teh. Disinilah, tepatnya di RSU Muntilan, tempat saya 'bekerja' dengan cara berlatih dan belajar ilmu obstetri dan ginekologi selama dua pekan kedepan, eh kebalik ding, yang betul adalah berlatih dan belajar dengan cara bekerja.

Pindah-pindah rumah sakit. Inilah ciri khas sistem rotasi klinis UGM. Setiap stase selalu diawali dengar rotasi di markas besar (Sardjito) dan diikuti markas pembantu (RS jejaring), kecuali radiologi, ilmu kesehatan masyarakat, dan KKN. Nah untuk stase obsgyn, rotasi di jejaring bisa dimulai di minggu ke tiga atau minggu ke empat. Ke empat untuk kelompok saya, itu karena staf obsgyn kewalahan mengatur jadwal koas obsgyn yang kebetulan sedang banyak-banyaknya). 

RS jejaring sardjito untuk stase obsgyn ada buanyak. RSU muntilan, RSU Wates, RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten, RSUD Banyumas, RSUD Cilacap, RSUD Pati, RSUD Banjarnegara, RSUD Wonosobo, RSUD Purworejo, serta Jetis, dan puskesmas Tegalrejo. Penentuan lokasi rotasi di RS jejaring sepenuhnya ditentukan oleh administrator. Nah, kebetulan mbak Admin koas tercinta, mbak Rini, memilihkan saya untuk rotasi di Muntilan selama 2 minggu, dan Banjarnegara selama 4 minggu. Wah, alhamdulillah dapet 2 kota ini yang konon katanya punya keunggulan masing-masing. Hehe

Moon-Tea Land
Ini pertama kalinya saya rotasi di Muntilan. Muntilan itu bukanlah kota. Muntilan adalah kecamatan yang masih bagian dari Kabupaten Magelang. Ini pertama kalinya saya koas sekaligus tinggal hntuk sementara waktu di Muntilan. Kalau cuma lewat muntilan sih udah sering, hehe, waktu ke temanggung buat nyekar, ato layat, atau sowan ke famili yang masih tinggal disana.

Disini saya bersama dua teman saya, namanya Tika dan Stefi. Kami kos barengan di rumah bu Sri Didik. Alhamdulillah kos disini enak, bangunan kosnya berupa rumah keluarga: ada tiga kamar, ruang tamu, ruang tengah, ruang makan, dua kamar mandi, dapur, ruang cuci baju, dan tempat menjemur pakaian. Fasilitas di kamar ada kasur 2x2 meter plus seprai, bantal, dan guling untuk tiga orang, lemari kecil untuk menyimpan pakaian, cermin, meja kecil, dan kursi. Di luar kamar ada kursi di ruang tengah, meja makan, kulkas, dan perkakas dapur (sayang ndak ada kompornya). Saya pilih kos disini karena hsrganya murah, hehe. Bertiga sekamar selama dua minggu dikenai harga 450 ribu all include, tidak perlu bayar tambahan untuk listrik. Tempat bersih, nyaman, tidak ada anjingnya, lokasi dekaat sekali dengan RS, tinggal jakan kaki 1 menit, dan mudah akses ke warung makan serta laundry.

Ini beberapa foto kosan kami :

Kamar tidur

Kamar mandi dengan toilet duduk, dan shower. Kalau saya sih lebih suka pakai ember dan gayung, hehe. Oh ya, airnya sejuuk..

Ruang tengah: TV punya mbak kos..  keliatan nyaman kan tempatnyaa :D

Begitu saya kabar-kabar ke Kak tik dan Stefi kalau saya nemu kosan itu, mereka langsung setuju buat kos disana!!

Hari pertama: orientasi dan poliklinik obsgin
Hal pertama yang dilakukan koas di hari pertamanya di RS jejaring adalah laopran ke bagian Diklat. Diklat di sini beda ya dengan diklat di Sardjito. Kalau di sardjito, diklatnya bahkan punya gedung sendiri, dan banyak ruangannya. Kalau di jejaring, diklat itu ya sebuah ruang ukuran sedang dan stafnya juga hanya beberapa. Sebelum berangkat ke luar kota, bagian diklat sardjito sudah memberi sangu berupa sebendel surat tugas ke RS jejaring masing-masing. Nah, surat itulah yang kami serahkan ke diklat jejaring. Setelah dari diklat, koas akan diantar atau diminta pergi sendiri ke bagian yang dituju.

Kalau di Muntilan sini diklatnya baik bangeet. Cewek-cewek bertiga ini (ima, kak tik, stefi) diantar untuk pengenalan lingkungan RS, lebih tepatnya ke tempat-tempat yang akan kami gandrungi selama dua pekan kedepan :poli, VK(kamar bersalin), OK (ruang operasi), dan bangsal. Kami juga dijelaskan mengenai aturan pembagian jadwal rotasi, nah, jadwalnya, kami sendiri yang buat. Agak bingung sih, koas yang tugas hanya tiga, sementara ruang ada empat. Yah, akhirnya pas pasan lah. Koas bertiga ini tiap 12 jam gantian jaga VK,, ada jaga siang, dan jaga malam. Akibat shift jaga ini, kamar kos yang disiapkan untuk tiga orang, jadi hanya terpakai untuk dua orang, Lha yang satunya jaga. Oh ya, koas tidak perlu khawatir mengenai buka puasa dan sahur. Disediakan kok bagi yang terjadwal jaga :) alhamdulillah ya..

Lapor diklat sudah. Orientasi RS dan peraturan sudah. Nah berikutnya, kami langsung diminta untuk ke ruangan masing-masing sesuai giliran. Saya dan kak tik ke poli, stefi jaga VK. Jam kerja poli dari jam 7.30 hingga jam 13.30, dan waktu saya jaga kemarin, entah mengapa sangat sepiii. Hanya lima pasien. Itupun tinggal empat setelah yang satu malah hilang entah kemana. Tugas koas di poli disini adalah mengasisteni dokter residen. Ya, agak lebih berbobot daripada di sardjito sih, tidak sekedar jadi spesialis tanda-tanda vital. Hehe. Bahkan, di poli kami juga bisa diizinkan untuk melakukan USG, pasang alat kontrasepsi, dan papsmear, jika ada pasiennya tentunya. Oh ya, RS ini punya dua dokter SpOG, dr Hari dan dr Heriyono. Biasanya, kalau dr Hari jaga poli, beliau minta ada 2 koas yang ikut, sementara kalau dr Heriyono, cukup satu koas saja.

Itu tadi tentang poli ya. Nah kalau VK, jni sih termasuk jadwal yang paling membuat koas obsgyn sibuk. Kepala bagian obsgyn disini, dr Hari, sebetulnya meminta agar 1 shift jaga VK selama 24 jam. Lah, yang bener aja, jelas bakal pada tepar lah koasnya. Untunglah bu Marni (staf diklat) bilang kalau kakak-kakak minggu biasanya buat 1 shift = 12 jam. Okedeh, kami ikut mahzab 12 jam saja. Koas juga bisa tikung menikung jadwal dong. Hehe.

Kebetulan saya tidak ada jadwal jaga hari pertama. Alhasil, setelah poli tutup, kurang lebih jam 13, yeaah, saya dapat jam tambahan buat istirahat dan beberes barang-barang bawaan yang belum tertata rapi di kamar kosan. Kak tik juga ikut saya pulang ke kosan, nah tapi tapi, kak tik mau balik ke jogja (dijemput adeknya naik mobil) buat ambil laundry dan beli handschoen steril, dan masker. Eh, tapi saya ikutan kak tik ke jogja dengs, hehe. Sekalian ikut beli alkes dan buka.

Awalnya kami mau beli alkes di dekat UPN veteran. Jauh ya. Ya gimana, di Munti ndak ada toko alkes ik. Toko Barokah namanya. Kakak kelas merekomendasikan toko itu karena murah. Kami sengaja cari yang murah karena kami mau beli dus-dusan masker dan gloves. Perlu banyak. Hmm, inilah resiko koas di Indonesia, APD habis pakai tidak disediakan RS dan universitas karena dana terbatas. Huhu.. kasihan sekali, padahal prosesi belajar ini kan sebetulnya sekalian pelayanan ke pasien.

Oh ya, balik soal alkes lagi.. untunglah tiba-tiba saya ingat ada toko alkes kafa medika di dekat RSUD Sleman, RS jejaring saya waktu stase anestesi dulu. Harga barang-barang yang kami cari, kebetulan lebih murah disini. Capcus lah beli, daripada jauh-jauh ke barokah. Gloves steril maxter ukuran 7 satu box isi 50 harga 175 ribu, masker tali satu box isi 50 seharga 20ribu. Kebetulan bisa sekalian beli sandal untuk VK di toko sebelahmya. Hmm.. Alhamdulillah. Pulangnya, baru deh sekalian beli makanan but ifthor di Olive.

Hoaahmm, inilah hari pertama saya di Negeri Bulan dan Teh. Masih ada dua belas hari tersisa disini. Masih perlu mempersiapkan materi dan mental dengan segala kasus dan staf yang ada disini. Semoga Allah ridho menjadikan tempat ini sebagai lahan belajar dan beramal bagi saya, kalau perlu partusnya yang banyak, biar saya bisa banyak belajar sebelum ke Banjarnegara nanti. Aamiin..




Jumat, 10 Juni 2016

O-bi-Ji-Wai-En

Assalamu'alaikum. Akhirnya saya menulis lagi tentang per koas an. Masih sama dengan posting sebelumnya, yaitu stase obgyn. Sekedar tau, stase obgyn merupakan satundari empat stase besar selama rotasi klinis alias koas. Durasinya lumayan lama, 10 minggu, berbeda dengan stase kecil yang berdurasi hanya 4 minggu. Meskipun lama, tapi kalau dilihat dari jumlah penyakit dan tindakan yang harus dikuasai betul-betul oleh seorang koas selama berada di stase ini, maka waktu 10 minggu itu terhitung sebentar. Tapi ya bagaimana lagi, waktu sesingkat ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
-Jaga bangsal jaga poli-
Di obgyn ini, saya pertama kali masuk poli dan jaga bangsal. Bener-bener terasa interaksi dokter pasiennya. Kalau sebelumnya, anes misal, kami langsung masuk kamarnya dan hanya nanya2 ala kadarnya untuk kepentingsn anestesi, sedangkan forensik, anamnesisnya ke keluarga korban serra ke polisi, lebih mirip dengan wawancara dari pada anamnesis.
Untuk jaga poli dan bangsal, tiap koas punya seorang partner yang bakal bareng terus selama ada di sardjito. Koas dan partnernya ini biasa disebut gemeli (kembaran). Nah, tiap gemeli digilir untuk jaga poli dan bangsal dengan adil. Jadi tiap anak mendapat jatah jaga poli dan bangsal yang sama.
Kalau saya sih bergemeli dengan sofhi.
RS Sardjito punya 5 poliklinik obsgyn, 1 pusat kayanan kontrasepsi mantap, dan 3 bangsal obgyn. Jaga poliklinik dilakukan pada jam kerja, sedangkan jaga bangsal selalu ada 24 jam,  dengan sistem shift 12 jam. Pembagian jadwal jaga terserah masing masing kelompok. Untuknjaga malam, saya dan sang gemelli kebagian jaga bangsal sebanyak 11 kali, 6 malam , 5 siang. Jga bangsal paling enak adalah di IMP, karena ruangannya dingin, ya, setidaknya klau hati agak panas setidaknya bisa didinginkan dengan AC. Hehe.
Kegiatan jaga: Jaga bangsal disini sangat amat berbeda dengan jaga UGD yang dulu saya alami waktu stase anestesi dan forensik. Kalau menurut saya sih, jauh lebih enak jaga UGD, karena kami bisa belajar banyak tindakan seperti memasang infus, pasang kateter, rawat luka, belajar manajemen kegawatdaruratan, stabilisasi pasien, dan lain-lain. Nah kalau jaga bangsal sardjito, yang terjadi adalah koas jadi asisten perawat. Cek tensi, respirasi, suhu, nadi, dan balans cairan. Nah untuk jaga bangsal IMP, ini agak lumayan, kami bisa berlatih mempelajari pemeriksaan ibu hamil, dan bisa learning by observing persalinan normal. Sebtulnya banyak protes dari para koas mengenai fenomena koas asisten perawat, tapi entah mengapa seperti tak terdengar oleh pejabat berwenang. Hmm..

Kalau jaga poli.. yaa, agak lumayan mendapat ilmu sih, karena kami bersama dengan residen. Sayang sekali, ilmu2 yg didapat di poli bukan ranah kompetensinya koas untuk menjadi dokter umum. Maklum saja, di RS rujukan nasional ini pasiennya sudah melewati berbagai tingkat rujukan, dan level diagnosisnya tinggi serta sering disertai diagnosis penyerta. Susah susahbkasusnya. Nantilah insyaAllah di RS jejaring kami baru bisa mendapat kompetensi dokter umum. Huft. Sabarrrr saja.

Okedeh, saya mau ngerjain tugas refleksi kasus dulu. Nanti insyaAllah saya mau rutin nulis certa koas. Karena cerita koas indah untuk dikennag, tapi hiks, menyakitkan untuk diulang.

Wassalamu'alaikum,

Semoga kehidupan koas bertambah baik

Selasa, 31 Mei 2016

Koas Sok Sibuk

:D
Lama tak nulis tentang koas. Terakhir kali nulis pas pembekalan koas deh kalau gak salah. Wah dah lama buanget itu. Sekarang saya sudah masuk stase ke-3, obsgyn. Sebelumnya udah anestesi dan forensik. Udah jalan koas 10 minggu an. Sejauh ini, saya sangat enjoy dengan kegiatan per koas an. Tak disangka, ternyata saya suka jadi dokter yg banyak interaksinya dengan pasien. Hehe. Perlu seni dan teknik yg berbeda2 dalam menghadapi satu sama lain, karena mereka adalah individu yg berbeda beda. Jdwal koas tidak semenyeramkan itu juga kok ternyata. Ya sejauh ini sih. Hehe. Entahlah dengan obsgyn di rs jejari g. Sepertinya sih lebih sibuk. Ya, berdoa sajalah, semoga diberi Allah kelancaran dalam berproses. Oh ya, saya dapet stase obgyn luar kots di Muntilan dan Banjarnegara. Dan yg sedikit mengecewakan adalah saya terancam lebaran di Banjarnegara. Lagi2 saya lebaran tidak di rumah, setelah tahun lalu lebaran di Bangkok. Ah, tidak apa2. InsyaAllah lebaran tahun depannya lagi saya sudah terjadwal liburrr, bisa lebaran di rumah lagi. Setidaknya tidak perlu seperti bang Toyib yg 3 kali lebaran, 3 kali puasa tidak pulang. Hehe.

Semangat sejawatt!!

Cerita stase2 sebelumnya dalam proses penulisan di draft.

Kamis, 03 Maret 2016

Cara Daftar Program Profesi Dokter UGM Tahun 2016

Peringatan: Ini adalah prosedur yang berlaku di FK UGM pada tahun 2016, pada FK universitas lain atau FK UGM pada tahun ajaran berikutnya, prosedur tersebut mungkin berlainan sesuai dengan kebijakan masing-masing pengurus program.
----
  1. Mahasiswa membuat akun pendaftaran di laman http://um.ugm.ac.id/admisi/
  2. Screenshoot pendaftaran dikirimkan  ke bagian Akademik FK UGM atau dikirim ke email bag. Akademik disertai dengan konfirmasi melalui Whatsapp pada nomer 08*************.
  3. Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM akan mengaktivasi akun tersebut. Setelah diaktivasi, mahasiswa melakukan pendaftaran secara online dengan mengisi sejumlah borang (formulir) dan mengunggah sejumlah scan/file dokumen yang dipersyaratkan. 

Data yang dibutuhkan untuk mengisi formulir antara lain adalah 
  • identitas diri berfoto ( KTP, SIM, Paspor), dan foto yang diunggah tentunya
  • data identitas: nama, tempat tanggal lahir, nomor identitas, masa berlaku identitas, kontak, alamat, dan  nama ibu kandung.
  • riwayat pendidikan S1 (asal universitas, asal prodi, akredetasi prodi (FK UGM: A), jumlah SKS, dan IPK
Scan dokumen yang perlu diunggah
  • Scan Surat Keterangan Lulus Yudisium S1
  • Scan Transkrip Nilai S1
  • Scan Surat Keterangan Dokter yang menyatakan bahwa calon peserta dalam keadaan sehat. SKD ini harus berasal dari Puskesmas atau rumah sakit.
Nah, setelah pengisian formulir dan unggah dokumen selesai, tahap berikutnya adalah penguncian data. Pada masa saya mendaftar, saya dan teman-teman sempat bingung dan panik karena sebenarnya ada 2 jenis scan dokumen lagi yang menurut pengumuman prodi dibutuhkan, eh ternyata tidak ada fasilitas pengunggahan dokumen tersebut di laman pendaftaran online. Setelah tanya kanan kiri dan juga pihak akademik, dapat lah kami jawabah bahwa dokumen tersebut tidak perlu diunggah. Oke, sip lah. Saya bisa mengunci data dengan tenang.

Tahap selanjutnya adalah pembayaran.
Ini nih luar biasa formalitas aja, pembayaran ini sebenarnya hanya akan di bypass oleh DPP karena kami sudah bayar SPP semester 8. Tahap ini ada untuk memindahkan uang yang telah kami bayar tersebut dari yang sebelumnya atas Nomor Induk Mahasiswa (NIM) selama sarjana ke NIM profesi kami yang baru. Di halaman pembayaran dituliskan Rp 0. Kami diminta membayar sejumlah nominal tersebut (NOL) pada bank-bank mitra UGM (nah gimana coba bayar nol rupiah?) Ternyata ada banyak perbedaan versi nasib pada status pembayaran kami. Ada yang bayar di ATM dengan kode pembayaran tertentu yang diminta sistem pendaftaran, dan setelah dicek di sistem online, statusnya sudah dibayarkan. Ada yang begitu juga tapi statusnya masih saja belum terbayarkan setelah berhari-hari. Ada juga yang tidak pakai bayar nol rupiah itu ke ATM dan statusnya langung terbayarkan. Yah, itulah sistem, masih banyak kekurangannya. Tapi okelah, karena itu formalitas. Semoga kelak tidak demikian lagi, dan lebih baik. Kasihan para pendaftar, banyak yang panik.

Cetak kartu peserta pendaftaran.
Setelah status pembayaran kami tertulis 'sudah dibayar' maka selanjutnya kami dapat mencetak kartu pendaftar yang otomatis dapat diunduh pada link di halaman pendaftaran.

Terakhir: tunggu pengumuman, kira-kira dua minggu setelahnya.

Pertanyaan: Begitu sajakah pendaftarannya hingga kami tiba-tiba disebut dokter muda (koas)? Ternyata tidak saudara-saudara. Tunggu kelanjutannya yaa :)