Tampilkan postingan dengan label sardjito. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sardjito. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Juni 2017

Jaga THT dan Terkabulnya Doa

Suatu saat di hari Sabtu pekan pertama stase THT, saya jaga bangsal bersama teman saya yang namanya Helena, gadis 1996 asal Bogor keturunan Klaten. Jaga bangsal di hari libur normalnya dibagi 2 shift, 07.00-19.00 dan 19.00-07.00 keesokannya. Namun jaga hari itu spesial. Kenapa? Karena cuma 1 shift. Bersyukur satu shiftnya bukan 24 jam, tapi 14 jam, jam 07.00-19.00. Ya Alhamdulillaah ga pakai sahur di RS segala. (Karena saya pengen banget sahur di rumah terus. hehe)

Apa sih yang dijaga selama jaga bangsal. Biasa... TTV alias tanda-tanda vital. Bahasa inggrisnya vital signs. Meliputi tensi, frekuensi nadi, respirasi, dan suhu badan. Selain itu, sebenarnya kasusnya bukan untuk dokter umum banget. Kalau mau periksa pasien cuma bisa seadanya saja, alat periksa untuk koas ga disediakan. Tapi tentu tetep bisa anamnesis. Lumayan kan. Dari anamnesis, 70% diagnosis telah tegak.
Waktu kami jaga, pasien bangsalnya ada 8. Dua diantaranya pemantauan khusus yang perlu di balans cairan tiap 4 jam. Selain itu... tensi jam 5 sore. Pasien2 pemantauan khusus itu sama sama terkena deep neck infection yang bermanifestasi menjadi abses leher. Penyebabnya, kemungkinan besar akibat infeksi dari gigi setelah cabut gigi di 'tukang' gigi. Makanya kalau mau perawatan gigi sama dokter gigi ya, jangan sama 'tukang' gigi.

Selain TTV kami juga ikut residen kalau ada tindakan atau panggilan dari IGD. Pas jaga kemarin ada dua pasien bangsal yang tindakan lepas tampon hidung. Saya sama Helena mengasisteni.

Cuma satu yang bikin Helena gelisah sejak pagi, ngga ada panggilan dari IGD. Memang kurang gimana gitu kalau jaga tapi ngga ada kasus IGDnya. Padahal teman-teman yang kemarin-kemarin jaga mesti dapet kasus IGD, bahkan ada yang sampai 6 kali. 
Hingga akhirnya sebelum sholat maghrib, Helena bilang "Ma, jangan lupa berdoa supaya ada kasus IGD ya.. satuu aja." 
Eh beneran, satu jam kemudian beneran ada kasus IGD. Hohoo, doa pun terkabulkan. Literally terkabulkan. Alhamdulillah. 

Kami ke IGD bersama residen bangsal jaga kala itu, dr. Ratna dan dr.Bontang. E ternyata kasusnya adalah, suspek corpus alienum duri ikan. Pasien wanita usia 50an datang dengan keluhan tenggorokan sakit dan perih sekali, yang dirasakan setelah pasien tidak sengaja menelan bagian ekor dari ikan lele yang disantapnya untuk berbuka. (sampai disini, pelajaran ya.. kalau makan ikan hati-hati, kayak saya, hati-hati banget kalau makan ikan. Akibatnya makan ikannya jadi lama 😂). Nyeri dirasakan memberat jika pasien menelan. Rasa mengganjal (+), sulit bernapas (-).

Setelah diperiksa dengan sebelumnya dibius lokal xylocain semprot, ternyata faring sebelah kanannya hiperemis sekali (hiperemis:kemerahan). Tanda bahwa disana baru terjadi peradangan/perlukaan. Namun sayang, si ekor ikan yang diduga jadi penyebabnya pun tak jua ditemukan. Bye. Residen pun memulangkan si pasien dengan obat pulang antinyeri dan antiradang. Jika dalam 5 hari keluhan tidak membaik, pasien diminta kontrol ke poli THT. Udah, gitu aja. Cuma ga sampai 10 menit balik lagi ke bangsal. Tapi alhamdulillah, doa koas jaga terkabulkan bukan ? 

Puas? Kalau kata hele sih dia sebenernya pengen kasus yang lebih advanced lagi. Entah yang kaya bagaimana maksud advanced itu. Mungkin yang duri ikannya kelihatan dan perlu tindakan laringoskopi direk untuk pengambilannya.. maybe. 

Hikmahnya.. ada konsekuensi dari doa dan terkabulnya doa. Selain mohon agar doa terkabulkan, baiknya juga memohon pada Allah agar memberi yang terbaik karena kita tak tahu apa yang akan terjadi sementara Dia mengetahuinya, dan mohon juga agar kita dimampukan untuk menghadapinya. Karena siapa tahu, ternyata doa betul-betul terkabulkan secara harfiah, tapi ternyata kita justru menemui kesulitan saat menghadapinya. Well, apapun itu, kalau Allah telah memberi karunianya, itu berarti Allah telah percaya pada kita dan telah memberikan kemampuan pada kita untuk menghadapi tantangan-tantangannya juga. والله اعلم بالصوب 


Sabtu, 27 Mei 2017

16112

Tak terasa sudah satu tahun dua bulan bersama mereka. Teman-teman yang kuat yang membersamaiku selama koas dua tahun ini. Dari lebih dua ratus dokter muda, entah mengapa aku ditakdirkan bersama mereka :) Kalau emang jodoh gak kemana ya. Hehe. Maka kita bertigabelas ini berjodoh. Iya kan 16112 ?





Disinilah berbagai karakter manusia bertemu, saling bersinergi. Meski kadang jalannya tak mulus. Tapi kuakui, bersama merekalah aku banyak bertumbuh, berproses dari seorang koas yang kosong, menjadi koas yang lebih berisi. Selamat menjalani sisa-sisa masa koas, semoga kita bersama menjadi pribadi yang lebih baik, dan saling menguatkan :)

Selasa, 31 Mei 2016

Koas Sok Sibuk

:D
Lama tak nulis tentang koas. Terakhir kali nulis pas pembekalan koas deh kalau gak salah. Wah dah lama buanget itu. Sekarang saya sudah masuk stase ke-3, obsgyn. Sebelumnya udah anestesi dan forensik. Udah jalan koas 10 minggu an. Sejauh ini, saya sangat enjoy dengan kegiatan per koas an. Tak disangka, ternyata saya suka jadi dokter yg banyak interaksinya dengan pasien. Hehe. Perlu seni dan teknik yg berbeda2 dalam menghadapi satu sama lain, karena mereka adalah individu yg berbeda beda. Jdwal koas tidak semenyeramkan itu juga kok ternyata. Ya sejauh ini sih. Hehe. Entahlah dengan obsgyn di rs jejari g. Sepertinya sih lebih sibuk. Ya, berdoa sajalah, semoga diberi Allah kelancaran dalam berproses. Oh ya, saya dapet stase obgyn luar kots di Muntilan dan Banjarnegara. Dan yg sedikit mengecewakan adalah saya terancam lebaran di Banjarnegara. Lagi2 saya lebaran tidak di rumah, setelah tahun lalu lebaran di Bangkok. Ah, tidak apa2. InsyaAllah lebaran tahun depannya lagi saya sudah terjadwal liburrr, bisa lebaran di rumah lagi. Setidaknya tidak perlu seperti bang Toyib yg 3 kali lebaran, 3 kali puasa tidak pulang. Hehe.

Semangat sejawatt!!

Cerita stase2 sebelumnya dalam proses penulisan di draft.