Tampilkan postingan dengan label UGM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UGM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 September 2016

Mengakhiri Stase Penuh ke Abu-Abuan di Radiologi

Sama mb Dian, administrator koas terbaiiik. Yang selalu sabar mengurus jadwal para koas. Yang baik banget selalu jadi penengah antara konsulen dengan koas. Terimakasih mba Dian sudah sangat membantu kerjaan saya selaku chief radiologi untuk teman kelompok saya. Saya jadi merasa bersyukur telah memilih jadi chief di radiologi. Loph you to the neptunus and back mbaak.

jeng Stefi, yang selalu barengan kemanapun rumah sakitnya, bahkan KKN 2 bulan pun insyaAllah barengan ya jeng ya? Hehe. Orang ter sabarrr, ter dewasaa. Paling kalem dalam memghadapi setiap masalah, paling tanggap kalo temennya lagi ada masalah. Pokonya , ter strong lahh. Sebagai sesama anak bekasi, gue patut bangga dengan jeng stef jni. Hehehe.

Pasca ujian akhir stase. Liaaat, tuh si Sofhi di depan shiny sekali, like a bride. Ane mah, nyumlik di belakang lagi urusan dengan mb Dian

Minus beberapa orang, ini kelompok besar saya untuk 4 stase besar plus stase radiologi. Bertepatan dengan hari keistimewaan kota Yogyakarta

Kebaya and batiks in a row. Sengaja janjian pake kebaya, biar makin menghayati hari keistimewaan jogja. Jiga foto-foto. Tetap yaa. Haha.


Alhamdulillah stase radiologi berakhir sudah. Stase kecil, ngale-ngale, tapi sangat bermanfaat ilmunya. Latian menginterpretasikan foto radiologi dengan kondisi pasien. Juga sekalian belajar patfis, pemfis, sx, ddx, tx penyakit. Yz, itung-itung dinstase radiologi ini sudah mencicil sedikit untuk stase Ilmu penyakit dalam, bedah, syaraf, anak, dan THT. Semoga berguna dan barokah ilmunya. 



Senin, 27 Juni 2016

Jaga Terakhir Obsgyn di Muntilan

Tak terasa rotasi selama 2 pekan di RSUD muntilan ini. Hari ini adalah hari terakhir saya bertugas di Muntilan, dan ditutup dengan jaga malam. Seperti biasa, begitu datang ke VK, saya operan dulu dengan kak Tika yang jaga sebelum saya. Kak tika jelasin apa-apa yang terjadi seharian itu, juga pasien-pasien apa saja yang tersisa. Agak sepi malam ini, ada 4 pasien di VK dan 1 di PONEK. Dua pasien post partum, satu pasien post partum hemorrhage, satu pasien pro-re-SC besok pagi, dan satu pasien hamil aterm ketuban pecah dini (KPD) letak sungsang. Wah, agak santai lah saya pikir. Hehe. Tidak ada yang dalam masa persalinan aktif, alias bukaannya masih 1 atau 2. Paling ada 1 yang perlu pantauan ketat denyut jntung janin tiap 2 jam dikarenakan punya KPD >24 jam, riwayat SC, dan riwayat minum jamu akar fatimah. Pasin itu mau di re-SC pagi ini. Dua jam itupun cukup santai karena bisa gantian dengan Hayyin, mahasiswa praktikan perawat. Nah karena santainya itulah, saya mohon izin ke Hayyin buat tidur duluan. Sudah ngantukk banget. Saya minta Hayyin bangunkan saya jam 1, biar gantian cek DJJnya.

SC Emergency
Sayapun tidur duluan jam 22.30. Saya setel alarm jam 1 dini. Eh lah kok malah nggak kebangun sama alarm saya. Saya justru bangun jam 01.30 karena suara ribut-ribut dari lur. Oalah,, ada apa tho. Dengan kondisi masih setengah sadar dan mata masih merah pun saya keluar, mengecek situasi. Ternyata sumber keributan itu semua dari bed 3, ibu yang hamil sungsang itu. Welah kenapa tho, apa sudah bukaan lengkap ya, pikir saya, malah bagus lah tidak perlu di SC kalau gitu. Eh tapi setelah saya perhatikan lagi, kok ada tali pusat menjuntai dari vaginanya. Saya pikir sudah lahiran dan memasuki waktu kelahiran plasenra, loh kok ditinggal tidur sebentar aja udah lahir. Yah, saya nggak bisa bantu persalinannya dong. Kecewa :( Setelah saya perhatikan sekali lagi, ternyata yang terjadi jauh lebih serius dari itu. Gawat darurat malah. Saya tidak lihat ada staf bangsal perinatal di VK, tidak ada suara tangisan bayi, infant radiant warmer (penghangat bayi) tidak menyala, perut ibu masih besar, serta masih terpasang doppler untuk cek DJJ di atas perut ibunya. Suara denyut janin terdengar bradikardi (frekuensi melambat). Wah, fix itu gawat banget. Prolaps tali pusat. Sangat berbahaya bagi janin. Kalau pembuluh darah di tali pusat tergencet sebentar saja, cukup beberapa detik, bayi bisa asfiksia (kekurangan oksigen) dan segera meninggal. Syukurlah tali pusat tidak full tergencetnya, sehingga bayinya masih dapat suplai darah dan oksigen.

Tim VK segera mengajukan permintaan operasi Sectio Cesarean(SC) cito (emergency), saat itu juga. Bersyukur sekalo karena tim cito Instalasi Bedah Sentral (IBS) fast response dan ibu bisa segera di operasi. Naah, sebagai koas yang iseng, saya inisiatif ikut ke operasi ibu tersebut. Untung boleh pinjam baju bersih punya IBS, biasanya sih disuruh membawa baju bersih sendiri.

Operasi dimulai pukul 1.45. Awalnya pasien dibius spinal di regio lumbal. Tapi ya, masak udah dibius spinal agak lama, kaki ibunya masih belum terlumpuhkan, masih terasa sakit waktu dicubit pakai pinset chirurgis yang ujungnya tajam. Tangan ibunya pakai bergerak ke medan operasi yang sudah steril lagi. Ngalamat gagal bius ini. Yahh, rak yo gawat kalau operasi biusnya gagal, nyerinya bisa terep terasa donk. Bisa menimbulkan trauma operasi yang hebat pada pasien. Akhirnya dokter SpAn memutuskan bius umum saja (general anestesi/GA) dengan pipa napas LMA secara rapid sequence intubation(RSI)ntermodifikasi. Waktu ditanya terakhir makan jam berapa, ternyata pasien baru makan jam setengah dua belas. Baru dua jam sebelum operasi. Hei, itu terlalu dekat jarak makannya. Secara teori sih sebenernya paling tidak dipuasakan 6 jam dulu sebelum operasi. Sebab, orang yang dibius umum akan kehilangan reflek menelan, dan berbatuk, sehingga memiliki resiko tinggi untuk tersedak makanan dari lambung ke paru-paru. Sebetuknya yang namanya RSI itu ya pakai pipa napas endotracheal tube(ET), bukan LMA. LMA terlalu beresiko untuk aspirasi(tersedak) karena pasien belum puasa 6 jam, seharusnya juga tidak boleh, namun dr SpAn takut menggunakan  karena akan memakan waktu lebih lama. Terlalu beresiko untuk bayinya. Jalannya operasi pun ada ada aja masalahnya. Letak bayi kepala disamping kanan, susah mengeluarkannya lewat irisan di dinding perut. Akibatnya dinding oerut ibu kepentok kepala bayi, otot-ototnya lebih banyak yang sobek, perdarahannyang terjadi kira-kira 3 kali lipat lebih banyak dibanding operasi SC elektif biasanya.. Bayi berhasil dilahirkan. Kondisi awalnya tidak bagus, dia tidak menangis dan tonus ototnya buruk. Saya tugas membawa bayi yang baru dilahirkan itu untuk dibawa ke tim perinatal di ruang pemulihan. Syukurlah sebelum saya sampai kesana, dedek bayi sudah menunjukkan tanda-tanda bernapas, walau lemah dan tidak menangis. Tapi setidaknya dia punya peluang yang baik  selesai pukul 2.45. Ini lama bangett SCnya. Satu jam. Demi Allah saya belum permah nemu SC selama ini. Biasanya cuma 20 menit selesai. 

Jadi keinget ibu waktu melahirkan saya dulu. Ibu mulai merasakan kenceng-kenceng di perut yang sakit biasa sejak hari kamis siang, 25 Agustus 1994. Terus begitu hingga ketuban pecah hari kamis malamnya. Terus menerus kontraksi sampai ibu kelelahan, tak ada tenaga lagi untuk mengejan padahal baru bukaan 3. Hmm, sepertinya ibu mengalami partus tak maju, yaitu periode memanjang dari bukaan serviks 1 cm ke bukaan 10. Akhirnya dokter SpOG  menawarkan pilihan SC untuk melahirkan saya. Dan saya pun lahir ke dunia ini paginya, pukul setengah tujuh WIB hari Jumat, 26 Agustus 1994. 

Duh, berat banget ya perjuangan menjadi seorang Ibu. Waktu kontraksi, saking sakitnya, guntingan episiotomi untuk melebarkan jalan lahir bayi pun konon katanya kalah sakit dibanding sakitnya kontraksi. Melahirkan SC yang dibius regional dari pinggang ke bawah pun, biasanya ibu tetap merasakan sakitnya kontraksi yang kerap terjadi di minggu-minggu akhir kehamilan, juga sakitnya luka post-op yang membuat ibu SC pulih lebih lama dari ibu partus normal. Dua-duanya sakit, sereem, dan beresiko. Pantaslah Allah dan Rasulullah SAW  menyuruh anak untuk berbuat baik kepada ibunya lebih dulu dari pada bapaknya. Nah kan, jadi kangen ibuk. Hiks. Saya tinggal mulu sejak stase obsgyn ini.

Yah, inilah stase obsgyn. Baru dua pekan di Muntilan, belum di Banjarnegara yang empat minggu. Semoga selain bisa menguasai kompetensi dokter umum yang ditargetkan, saya juga bisa mengambil ibroh (pelajaran) yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Bye stase obgyn muntilan, VK, Poli KIA, bangsal Gladiol, ibu-ibu bidan dan perawat yang baik hati, adek-adek akbid serta akper yang jadi teman setia saat jaga VK, dan tentunya dokter SpOG yang gemar mengajari dan m. Overall di Muntilan yang katanya selo itu menurut saya sebenernya.., ya selo sih. Tapi selonya bisa dapet kompetensi. Tempatnya juga nyaman, dan dekat dengan sumber peradaban. Udah gitu, dapet menu buka dan sahur gratis bagi koas yang jaga. Wah itu baik banget, demi Allah. Gak ada RS lain yang menyediakan ransum koas. Wah bakal kangen lah dengan koas obgyn muntilan. Semoga di Banjarnegara bisa lebih maksimal belajar dan berlatihnya. Semogaaa aja Allah ridho dengan koas kami, menjauhkan kami dari maksiat, dan menunjukkan kami ke jalan-Nya yang terang benderang.

Kamis, 03 Maret 2016

Cara Daftar Program Profesi Dokter UGM Tahun 2016

Peringatan: Ini adalah prosedur yang berlaku di FK UGM pada tahun 2016, pada FK universitas lain atau FK UGM pada tahun ajaran berikutnya, prosedur tersebut mungkin berlainan sesuai dengan kebijakan masing-masing pengurus program.
----
  1. Mahasiswa membuat akun pendaftaran di laman http://um.ugm.ac.id/admisi/
  2. Screenshoot pendaftaran dikirimkan  ke bagian Akademik FK UGM atau dikirim ke email bag. Akademik disertai dengan konfirmasi melalui Whatsapp pada nomer 08*************.
  3. Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM akan mengaktivasi akun tersebut. Setelah diaktivasi, mahasiswa melakukan pendaftaran secara online dengan mengisi sejumlah borang (formulir) dan mengunggah sejumlah scan/file dokumen yang dipersyaratkan. 

Data yang dibutuhkan untuk mengisi formulir antara lain adalah 
  • identitas diri berfoto ( KTP, SIM, Paspor), dan foto yang diunggah tentunya
  • data identitas: nama, tempat tanggal lahir, nomor identitas, masa berlaku identitas, kontak, alamat, dan  nama ibu kandung.
  • riwayat pendidikan S1 (asal universitas, asal prodi, akredetasi prodi (FK UGM: A), jumlah SKS, dan IPK
Scan dokumen yang perlu diunggah
  • Scan Surat Keterangan Lulus Yudisium S1
  • Scan Transkrip Nilai S1
  • Scan Surat Keterangan Dokter yang menyatakan bahwa calon peserta dalam keadaan sehat. SKD ini harus berasal dari Puskesmas atau rumah sakit.
Nah, setelah pengisian formulir dan unggah dokumen selesai, tahap berikutnya adalah penguncian data. Pada masa saya mendaftar, saya dan teman-teman sempat bingung dan panik karena sebenarnya ada 2 jenis scan dokumen lagi yang menurut pengumuman prodi dibutuhkan, eh ternyata tidak ada fasilitas pengunggahan dokumen tersebut di laman pendaftaran online. Setelah tanya kanan kiri dan juga pihak akademik, dapat lah kami jawabah bahwa dokumen tersebut tidak perlu diunggah. Oke, sip lah. Saya bisa mengunci data dengan tenang.

Tahap selanjutnya adalah pembayaran.
Ini nih luar biasa formalitas aja, pembayaran ini sebenarnya hanya akan di bypass oleh DPP karena kami sudah bayar SPP semester 8. Tahap ini ada untuk memindahkan uang yang telah kami bayar tersebut dari yang sebelumnya atas Nomor Induk Mahasiswa (NIM) selama sarjana ke NIM profesi kami yang baru. Di halaman pembayaran dituliskan Rp 0. Kami diminta membayar sejumlah nominal tersebut (NOL) pada bank-bank mitra UGM (nah gimana coba bayar nol rupiah?) Ternyata ada banyak perbedaan versi nasib pada status pembayaran kami. Ada yang bayar di ATM dengan kode pembayaran tertentu yang diminta sistem pendaftaran, dan setelah dicek di sistem online, statusnya sudah dibayarkan. Ada yang begitu juga tapi statusnya masih saja belum terbayarkan setelah berhari-hari. Ada juga yang tidak pakai bayar nol rupiah itu ke ATM dan statusnya langung terbayarkan. Yah, itulah sistem, masih banyak kekurangannya. Tapi okelah, karena itu formalitas. Semoga kelak tidak demikian lagi, dan lebih baik. Kasihan para pendaftar, banyak yang panik.

Cetak kartu peserta pendaftaran.
Setelah status pembayaran kami tertulis 'sudah dibayar' maka selanjutnya kami dapat mencetak kartu pendaftar yang otomatis dapat diunduh pada link di halaman pendaftaran.

Terakhir: tunggu pengumuman, kira-kira dua minggu setelahnya.

Pertanyaan: Begitu sajakah pendaftarannya hingga kami tiba-tiba disebut dokter muda (koas)? Ternyata tidak saudara-saudara. Tunggu kelanjutannya yaa :)