Minggu, 13 April 2014

Di Nol Kilometer Kota Jogja, Berjualan Bunga Mawar

Ba'da isya di area Monumen Serangan Umum 1 Maret
Jalan Malioboro, Yogyakarta

Ramai sepanjang jalan. Orang berlalu lalang, tiada henti aliran manusia di sepanjang trotoar itu. Aku yang tadinya berjalan terus, sejenak berhenti, memperhatikan sekitar. Sebagian besar manusia-manusia di sekitarku ini muda-mudi, usia remaja dan dewasa awal. Kebanyakan diri dari mereka itu perempuan dan laki-laki yang mengikrarkan diri sebagai 'pasangan' yang berpacaran. Ramai nian, semoga dagangan malam ini habis terjual, batinku. Sebenarnya bukan cuma aku dan teman-temanku saja yang menjajakan bunga malam ini, ada juga kelompok-kelompok dari kepanitiaan atau komunitas lain yang berjualan bunga juga. Agak kurang cerdas memang, kami jadi bersaing satu sama lain, memperebutkan ladang hamparan calon pembeli mawar-mawar sederhana itu. Jangan sampai mereka keburu membeli mawar milik yang lain, pada dasarnya begitu prinsip berjualan malam ini.

Aku lebih senang menjual kepada anak-anak muda. Aku lebih suka meminta mereka membeli untuk diberi pada yang terkasih di rumah, siapa lagi kalau bukan orang tua mereka. Ah, tapi nampaknya mereka lebih setuju dengan ide memberi untuk 'pacar' mereka. Satu lagi, aku juga senang menjual pada bapak-bapak, untuk yang dirumah (istrinya) kataku, tapi sepertinya mereka lebih suka membelikan tas atau sepatu untuk istrinya di rumah. Ya sedih juga sebenarnya kalau ditolak calon pembeli seperti itu, tapi bagaimanapun juga, aku tak boleh merautkan wajah kecewa di wajah. Harus tetap tampak senang dan optimis untuk bunga-bunga ini. Kasihan teman-teman yang berjualan setim denganku kalau aku cemberut dan lemes, nanti mereka ikut-ikutan meloyo lagi.

Pokoknya tema malam ini adalah optimis. Seoptimis matahari siang yang tetap menyinari bumi apapun yang terjadi sampai senja tiba. Optimis mawar-mawar itu laku habis terjual malam ini juga. Setiap ada orang-orang yang tampak potensial sebagai pembeli, kami tawari dia. Berapapun usianya. Sesekali ada pula yang beli, misalnya seorang mas-mas yang dari gerak geriknya seperti akan 'nembak', menyatakan 'tresno'nya pada mbak-mbak gebetan alias calon pacarnya. Awalnya dia menukarkan selembar uang sepuluh ribunya dengan setangkai mawar putih. Kemudian dengan gaya yang dibuat cool dia berjalan menjauhi kami, menuju ke seseorang, dan dengan menyembunyikan mawar itu di balik tubuhnya. Lucu, caranya terlalu sinetron, kurang romantis walau saat itu belum lama sejak hujan berhenti turun. Kalau mau romantis jangan tembak dia sebagai pacar, tapiii.. ya semoga kalian sudah tau jawabannya.

Aku lebih suka lagi kalau barang yang dijual itu gelas-gelas lucu, stiker, pin, kaos, atau apalah selain bunga-bunga itu. Lebih awet, bisa dijual besok dan besoknya lagi tanpa takut layu. Lagipula pemandangan jualan bunga di nol kikometer ini itu-itu saja. Ratusan 'pasangan' muda-mudi atau gerombolan wisatawan dari luar Jogja. Yang lumayan menarik itu kalau melihat sebuah keluarga, ayah ibu anak, atau pasangan-pasangan lanjut usia. Kecuali satu ini, waktu menawarkan mawar ke satu pasang, perempuan berjilbab dan pacarnya, mereka bergandengan tangan.

aku: "Mas, Mbak, (sambil menampakkan wajah bahagia), bunga mawarnya"
mas&mbaknya : (senyum, lanjut berjalan)

Setelah itu, baru aku sadar. Itu bukan pacaran biasa. Lihat, kerudung mbaknya besar, menutupi lengan, dan dirangkap dua. Itu seperti bukan pacaran biasa. Itu tampak seperti, hmm, pacaran yang sudah ada buku legal dari negara dan telah melalui proses yang disebut sebagai ijab qobul. Zinggg. Di depanku, mbak Tanti dan mbak Probo, kami cuma saling berpandangan. Sama-sama mengerti kode ketakjuban di pandangan masing-masing. Sama-sama takjub dengan keberanian dua manusia yang sebaya kami itu untuk melangkah lebih dulu. Sayang sekali, sejoli yang sangat meyakinkan ke-sah-an status pasangannya itu cuma lalu, senyum, dan tidak membeli mawar kami.

Lanjut berjualan, kami mengelilingi area simpang empat nol kilometer kota Jogja, sesekali mampir melihat atraksi-atraksi sekitar. Ada kumpulan 8-10 orang penari tarian Papua, ada 4 orang yang berkostum tentara keraton yang unik, ada kelompok hantu-hantuan yang didandani seram betul, dan ada juga mas-mas yang bawa ular jinak, bisa dipinjam-pinjam tanpa khawatir tergigit. Yang terakhir itu, favorit temanku, mbak Tanti, bahkan ia sempat menggendong ular itu. Lanjut berkeliling area, sesekali kami bertemu temang-teman penjual bunga dari komunitas lain, malah bercanda untuk bertukar dagangan. Ada-ada saja. Kadang kami juga berpapasan lagi dengan orang-orang yang kami tawari tadi. Bahkan sejoli yang meyakinkan tadi. Ah, lihat, mbaknya pegang bunga sekarang. Tetap bergandengan tangan. Akhirnya mereka beli bunga juga, walau bukan di kami. Ya memang bukan rejeki kami, biarlah.

Dan petualanganku berjualan malam itu harus berakhir lebih cepat dari yang lain. Sudah hampir jam sembilan. Sudah saatnya pulang ke rumah Ibu-Bapak, kembali ke jangkauan mereka setelah seharian beraktivitas di luar. Dan akhirnya, tiada rasa selain syukur untuk kesempatan ini, masih dipercaya oleh-Nya untuk bersama Ibu-Bapak, dan menemani mereka. Tak boleh disia-siakan.

Dan inilah cerita malam ini. Masih terngiang dengan pasangan yang tadi. Tapi, sudahlah, daripada dipikirkan terus, lebih baik memantaskan diri sebagai seorang hamba Allah yang baik dulu. Memantaskan diri untuk pakaian muslimah yang aku kenakan. Memantaskan diri menjadi anak yang baik bagi kedua orangtuaku yang luar biasa. Memantaskan diri menjadi warga negara generasi Indonesia yang jaya. Ya, itu. Jangan berpikir aneh-aneh dulu, luruskan niat. Ikhtiar dengan sebaik-baiknya usaha. Luruskan niat lagi. Dan jangan lupa berdoa pada sang Khalik agar senantiasa dilindungi dan dibimbing-Nya. Aamiin yaa rabb.


Sampai jumpa.
^^



Tidak ada komentar:

Posting Komentar